Mulah Sanong
Mulah Sanong
Adat kematian di dalam tradisi kita memiliki tata cara tersendiri bagi orang yang sudah meninggal dunia. Di tempat ini, jenazah orang yang meninggal ada yang langsung dibakar menggunakan api, dan ada pula yang dikuburkan di dalam tanah. Bagi jenazah yang sudah dibakar, abunya kemudian disimpan atau dimasukkan ke dalam sandung, yaitu sebuah bangunan tempat menyimpan tulang-belulang yang diletakkan di atas atau ditinggikan. Adat menyandung ini membawa pesan yang saling berkaitan dengan kisah-kisah masa lalu mengenai para leluhur yang menetapkan aturan tersebut.
Persyaratan adat menyandung ini diturunkan sebagai syarat bagi masyarakat Kayan dari seorang tokoh bernama Mamang Biang. Mamang Biang adalah seorang lelaki asal Melawi yang memiliki seorang istri yang tinggal di hulu Nanga Masau, tepatnya di sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Diang. Untuk mencapai tempat tersebut, ia harus mudik menyusuri Sungai Kayan, kemudian melanjutkan perjalanan mudik menuju Masau. Di sanalah letak Bukit Diang yang berada di wilayah hulu Nanga Masau tersebut.
Ketika mengadakan upacara gawai sandung, masyarakat terikat oleh sebuah pantangan yang ketat mengenai hewan kurban. Berdasarkan pesan dari Mamang Biang, upacara tidak boleh dilaksanakan jika tidak menyembelih babi sebanyak tujuh ekor. Ketentuan wajib ini harus dipenuhi dengan menyediakan tujuh ekor babi ataupun sapi. Pesan adat ini kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Mamang Semenok, yang nantinya pergi ke Empakan untuk melamar seorang wanita bernama Dayang Ngiang.
Dayang Ngiang adalah sosok wanita yang memiliki kekuatan luar biasa pada masanya. Ketika sedang menghampiri dan mendekatinya, Mamang Semenok menyaksikan sendiri kehebatan Dayang Ngiang yang saat membuang air kecil di Sungai Kayan, air kencingnya dapat memancar sangat jauh dari seberang sungai hingga mencapai seberang sungai yang satunya. Kemampuan magis ini tidak mengherankan karena ia hidup pada zaman Mamang Semenok, anak dari Mamang Biang yang terkenal sebagai orang yang sangat berkuasa dan sakti mandraguna.
Kisah tentang upacara gawai nyandung ini menjadi cerita besar yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kepercayaan tersebut, Bukit Saran menjadi tempat tujuan bagi orang yang sudah meninggal dunia. Menurut penuturan orang tua, orang yang sudah meninggal dua atau tiga tahun yang lalu sebenarnya masih bisa dilihat. Sejak hari pertama meninggal hingga hari ketiga, kemudian hari ketujuh, sampai genap satu bulan, terdapat pantangan serta syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga.
Setelah melewati masa tiga hari, tubuh jenazah mulai pecah, lalu berlanjut hingga hari ketujuh, dan akhirnya genap satu bulan setelah kematian. Setelah genap satu bulan orang tersebut meninggal dunia, barulah masyarakat dapat melaksanakan pesta adat. Mulai dari awal kematian, roh orang yang meninggal tersebut sebenarnya harus diantarkan menuju Bukit Saran yang terletak di dalam Sungai Sekujau, hulu Sepauk, yang juga dinamakan Bukit Sekujau. Proses pengantaran roh ke Bukit Sekujau atau Bukit Saran ini tidak boleh dilakukan sembarangan, melainkan harus dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan khusus.
Pengantaran roh ini benar-benar nyata, bahkan ada saksi yang pernah melihat langsung bagaimana mereka menghantarkan roh orang yang baru meninggal semalam, di mana jasadnya masih bisa mengeluarkan peluh. Prosesi pengantaran roh ke Bukit Saran dilakukan dengan menyanyikan lagu khusus. Di daerah ini, nyanyian pengiring tersebut dinamakan bokalang, sedangkan masyarakat di daerah sana menyebutnya botanges. Mengapa roh-roh tersebut harus diantarkan ke Bukit Saran, hal itu dikarenakan tempat tinggal para hantu atau roh memang berada di Bukit Saran, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh orang-orang tua zaman dahulu.
Terdapat sebuah kisah tentang seorang tua zaman dulu yang memiliki dua orang anak laki-laki. Sang ayah menyuruh saudaranya untuk menempa dan membuatkan sebuah pisau, namun saudaranya tersebut menolak. Akibat penolakan itu, kedua anak laki-laki tersebut akhirnya pergi menemui roh ayah mereka yang sudah meninggal dunia di alam baka. Sang ayah menenangkan kekhawatiran mereka dengan berkata agar mereka mengambil arang dan membawa besi ke tempat tinggalnya di Sebayan.
Kedua anak laki-laki itu pun berangkat menuju tempat ayahnya di Sebayan dan memeriksa rumah di sana. Ketika berada di alam tersebut, kedua anak itu sangat ingin ikut dan tinggal bersama ayahnya di tempat para hantu, namun sang ayah melarang mereka dengan tegas karena waktu mereka untuk mati belum tiba. Dari sanalah diketahui bahwa surga atau tempat tinggal para roh terletak di Bukit Kujau yang berada di hulu Sepauk, tempat di mana roh orang-orang yang meninggal dihantarkan. Meskipun cerita ini sempat menjadi perdebatan, kisah-kisah nyata di dalamnya masih tetap ada.
Salah satu bukti nyata yang dialami orang tua zaman dahulu adalah kisah tentang seseorang bernama Jalok yang meninggal dunia dalam usia yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Ketika Jalok sudah lama meninggal, tiba-tiba muncul ombak besar di tempat peluncuran perahu. Kejadian itu disebabkan oleh kedatangan para hantu dari Bukit Saran yang hendak mengambil tempat, sehingga mengganggu manusia hidup yang ingin mudik atau milir. Ombak yang diluncurkan di tempat peluncuran peti mati yang beralih fungsi menjadi perahu mayat itu terjadi di sebuah riam yang bernama Riam Popat.
Ombak di Riam Popat ini menghancurkan bara gunung merapi dan oleh masyarakat disebut sebagai kalampih, yaitu tempat meluncurkan peti mati yang menjadi perahu bagi mayat. Cerita tentang bergabungnya orang yang sudah meninggal dengan orang yang masih hidup ini benar-benar nyata. Setelah Jalok meninggal sekian lama, terjadi sebuah peristiwa di mana orang-orang sedang membakar jenazah manusia yang hidup di zaman itu. Jalok dipanggil oleh ombak yang mengikuti bara gunung merapi, namun ia tidak berani mendekat karena di tempat tersebut ada api yang sedang membakar manusia yang meninggal dengan cara menghempaskan kayu bakar ke dalam api.
Karena ketakutan, Jalok yang sudah lama meninggal itu tidak jadi ikut dengan rombongan hantu yang sedang milir membawa roh manusia yang dibakar. Jalok kemudian menangkap tiang tingkat, yaitu tiang mia atau tiang jemuran di tempat pembakaran tersebut. Orang yang sedang membakar jenazah melihatnya dan berseru menanyai Jalok yang tampak menempel di tiang mia. Akhirnya Jalok memilih untuk pulang ke rumah dan ikut hidup bersama orang-orang yang masih hidup di rumah tersebut. Meskipun sudah meninggal selama empat belas atau lima belas tahun, ia bisa hidup kembali di dunia manusia.
Namun, cara hidup dan pekerjaan Jalok sebagai hantu sangat berbeda dengan manusia biasa. Apabila malam hari tiba, ia akan sibuk menumbuk padi, sedangkan pada siang hari ia hanya tidur. Ketika orang-orang memperhatikannya saat tidur, kakinya ditarik ke atas mempahan seperti cara tidur seekor kelelawar, dengan kaki di atas dan kepala menggantung ke bawah. Hal ini terjadi karena ia hidup kembali hanya sebagai sisa roh tanpa memiliki tulang, sehingga ia belum bisa pulang sepenuhnya ke tempat para hantu. Jalok terus ikut tinggal bersama manusia dan menumbuk padi saat orang-orang mau tidur, hingga ia menghabiskan waktu setahun hidup seperti itu.
Kisah hidup Jalok berakhir ketika ada orang meninggal lagi dan ia meloloskan diri dengan meloncat ke dalam api pembakaran. Ketika orang-orang mencari tulang Jalok di dalam sisa api, mereka tidak menemukan apa-apa karena memang yang dibakar hanyalah roh Jalok yang hidup tanpa tulang. Selain kisah Jalok, ada juga cerita nyata lain dari Bukit Saran mengenai seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Anak yang pertama sudah bisa mengasuh adiknya, sedangkan anak yang kedua masih bayi dan masih menyusu kepada ibunya.
Sebelum sang ibu meninggal dunia, ia sempat berpesan kepada anak sulungnya untuk menjaga adiknya dan membawanya menyusu jika adiknya menangis. Suatu hari, sang anak sulung merasa sangat kelaparan saat menggendong adiknya. Sang ibu yang sudah meninggal dunia itu datang kembali untuk menyusui bayinya, lalu berpesan kepada anaknya agar mereka pamali atau tabu memakan segala jenis umbut rotan dan umbut nibung. Sang ibu melarangnya karena jika umbut tersebut dimakan, mata mereka akan tertutup dan tidak akan bisa melihat ibunya lagi.
Namun karena perutnya sudah sangat kelaparan dan kondisi alam saat itu masih berupa rimba belantara dengan sedikit ladang, sang anak sulung melanggar pantangan tersebut dengan menebang pohon nibung lalu memakan umbut nibung dan rotan di samping rumah. Dua hari kemudian, ibunya datang kembali karena si kecil menangis dan memanggil agar adiknya dibawa untuk menyusu. Sang anak sulung sudah tidak bisa melihat wujud ibunya lagi dan hanya bisa mendengar suaranya. Ibunya kemudian berkata bahwa barang-barang pantangan yang dimakan tadi pasti akan menjadi ikan dan itulah yang menutup mata anaknya sehingga tidak bisa lagi melihat orang yang sudah meninggal.
Kisah lain yang berasal dari Bukit Saran adalah cerita tentang seorang tukang judi sabung ayam yang bernama Pucong Paong. Pucong Paong selalu membawa ayam aduannya yang bernama Pucong Paong setiap kali ada acara pesta atau keramaian. Suatu ketika dalam perjalanan hendak mengadu ayam, ia bertemu dengan rombongan lain di tengah jalan yang juga ingin mengadu ayam. Ternyata, rombongan yang ditemuinya itu bukanlah manusia biasa, melainkan kawanan hantu yang berasal dari Bukit Saran.
Pucong Paong akhirnya ikut berjalan bersama mereka menuju ke tempat hantu untuk mengadu ayam. Ayam yang dibawa dari tempat hantu itu memiliki keunikan, yaitu berukuran kecil sebesar lengan namun bulu-bulunya tumbuh terbalik. Bulu ayam tersebut terbalik karena ayam dari tempat hantu tidak bisa tengkurap. Setelah selesai mengadu ayam dan hendak pulang ke kampungnya sendiri, Pucong Paong melihat kerumunan orang ramai di tengah jalan dan mendengar kabar bahwa ada seorang wanita yang meninggal dunia saat melahirkan.
Saat memperhatikan rombongan hantu yang lewat membawa babi dan anjing peliharaan menuju Bukit Saran, Pucong Paong terkejut karena anjingnya sendiri ikut berjalan pulang bersama rombongan hantu tersebut. Di tengah keramaian itu, ia melihat dengan jelas bahwa roh yang sedang dibawa oleh para hantu adalah istri dan anaknya sendiri. Pucong Paong langsung menangkap istrinya dan menolak melepaskannya meskipun hantu-hantu itu memperingatkan bahwa ini sudah menjadi syarat bagi roh untuk pulang ke Bukit Saran.
Hantu tersebut akhirnya mengizinkan Pucong Paong membawa istrinya pulang dengan satu syarat, yaitu sesampainya di rumah, ia harus membuang bangkai rusa ke seberang tempat mandi mereka, lalu menaruh jasad istrinya di dalam jurang dekat tempat mandi sebelum kembali ke rumah. Pucong Paong mengikuti petunjuk tersebut dan membawa istrinya sampai ke dekat halaman rumah. Sementara itu di dalam rumah, orang-orang sedang menangis karena mengira istri Pucong Paong sudah mati, meskipun jasadnya belum dikubur atau dibakar.
Pucong Paong kemudian menggendong jasad istrinya diikuti oleh orang-orang, lalu membawanya ke jurang di dekat tempat mandi dan melemparnya ke sana sesuai perintah hantu. Segera setelah mayat itu dilempar, napas dari roh yang dibawanya dari tengah jalan tadi langsung masuk kembali ke dalam tubuh istrinya. Istri Pucong Paong pun hidup kembali dan mereka pulang ke rumah, sementara jasad yang dilempar ke jurang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. Istri tersebut sempat hidup kembali selama dua atau tiga tahun, hingga akhirnya ia meninggal dunia untuk kedua kalinya dan pulang selamanya ke alam hantu bersama anaknya.
Semua kisah ini, mulai dari Pucong Paong yang membawa ayam berbulu terbalik, kisah Jalok yang hidup tanpa tulang, hingga kisah anak yang menemui ayahnya di alam baka dengan membuka tanah, menjadi bukti nyata yang membenarkan keberadaan Bukit Saran dalam kepercayaan orang tua zaman dulu. Kisah-kisah mistis ini terus hidup di dalam ingatan masyarakat, terutama melalui orang-orang khusus yang memiliki kemampuan untuk menyanyikan bokalang guna mengantarkan roh orang mati. Cerita-cerita dari Bukit Saran ini dipercaya terjadi pada zaman dahulu, di mana kehidupan manusia masih berdampingan erat dengan keberadaan para dewa.