Nusa Kenyikap Pangkar Dikumpulkan oleh Nina

Pantang Beuma Kan Tuha Marik

Pantang Beuma Kan Tuha Marik

Pantang Beuma Kan Tuha Marik

20:09 menit

Dahulu kala, kehidupan masyarakat kami saat berladang sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang. Segala gerak-gerik dan rencana pekerjaan selalu diatur oleh berbagai pantangan atau pamali yang sangat kuat. Misalnya, saat kami sudah bersiap dan mulai berjalan menuju ladang, jika tiba-tiba terdengar suara satu burung ketupong, maka rencana itu harus segera dibatalkan. Kami terpaksa pulang dan baru berani mencoba turun ke ladang lagi pada keesokan harinya dengan harapan tidak ada firasat buruk yang mengadang di tengah jalan.

Keesokan harinya pun belum tentu perjalanan berjalan lancar sesuai rencana semula. Pernah suatu ketika saat kami turun lagi ke ladang, tiba-tiba terdengar suara kijang yang menyalak di tengah hutan. Mendengar suara itu, kami pun tidak jadi lagi melanjutkan pekerjaan ke ladang karena suara hewan tersebut dianggap sebagai pertanda yang tidak baik. Beruntungnya, meskipun perjalanan dibatalkan berkali-kali, bekal makanan yang kami bawa tetap aman dan tidak dimakan anjing menurut cerita tetua kami.

Pantangan ini tidak hanya berlaku saat di perjalanan, tetapi juga saat kami sudah mulai bekerja melakukan penebasan. Jika sedang makan pagi atau sebelum makan siang tiba-tiba ada seekor lebah yang terbang melintas di hadapan kami, maka pekerjaan harus segera ditunda. Kami tidak akan melanjutkan menebas hari itu dan memilih untuk meneruskannya besok harinya saja. Hal serupa juga berlaku jika tiba-tiba terdengar suara guntur satu kali di siang hari saat kami sedang menyantap makanan; rasa takut akan pamali membuat kami tidak berani bekerja lagi.

Sering kali kami mengalami kegagalan untuk bekerja di ladang karena berbagai kendala yang muncul secara berturut-turut. Kadang kala, ada orang di kampung yang berhasil mendapatkan babi hasil buruan dan membawanya pulang. Jika kami yang sedang di ladang melihat atau mendengar tentang kepala babi tersebut, maka para tetua akan melarang kami bekerja. "Jangan bekerja ke ladang hari ini, tidak bisa kita bekerja karena sudah melihat kepala babi, itu pamali," kata mereka dengan penuh keyakinan.

Begitulah keseharian kami jaman dulu, hampir tiap hari ada saja alasan yang membuat kami urung bekerja, meskipun kadang ada juga hari yang lancar. Jika sepanjang pagi tidak ada bunyi burung yang aneh-aneh, barulah kami bisa bekerja menebas ladang dengan tenang hingga seharian penuh. Namun, jika di tengah ladang kami menemukan bangkai hewan yang sudah berupa kerangka, maka pengerjaan ladang itu harus segera dihentikan total. Ladang tersebut dianggap tidak bisa lagi diambil atau digarap karena keberadaan kerangka hewan yang sudah mati di sana.

Terhadap tulang atau bangkai yang sudah rapuh di tengah ladang, masyarakat kami memiliki tradisi untuk memberinya persembahan. Tulang tersebut akan dijepit dengan kayu sebagai penanda, lalu diberi "makanan serahan" yang dipuja dengan doa-doa khusus. Walaupun secara logika tulang-tulang itu tidak mungkin bisa makan, kami tetap memberikan makanan sebagai bentuk penghormatan. Setelah itu, kami akan membuatkan kelongkang, yaitu wadah yang digantung menggunakan bambu panjang di tengah ladang sebagai syarat untuk menugal atau menanam padi.

Di dalam kelongkang tersebut, kami meletakkan berbagai jenis makanan seperti nasi, topong yang terbuat dari beras ketan, dan aneka panggangan. Makanan-makanan ini sering kali menarik perhatian burung elang yang kemudian datang untuk menyambarnya habis. Melihat hal tersebut, beberapa orang biasanya akan membuat perangkap di sekitar kelongkang untuk menangkap elang-elang yang datang mencuri persembahan itu. Begitu banyaknya pamali jaman dulu membuat waktu bekerja kami menjadi sangat singkat dan sering terputus di tengah jalan.

Bahkan jika kami hanya mendengar suara asap tebasan atau bunyi satu burung ketupong saat baru menempuh setengah perjalanan, kami akan langsung balik kanan. Ada kepercayaan bahwa jika terkena pertanda ketupong satu, luka atau musibah yang akan menimpa tidak akan bisa ditawar-tawar lagi. Akibatnya, bekal yang sudah dibawa ke ladang harus dibawa pulang kembali ke rumah. Bekal tersebut tidak boleh dimakan oleh orang yang membawanya balik, melainkan harus diberikan kepada orang lain di rumah yang tidak ikut ke ladang agar tidak melanggar pantangan.

Ada pula pantangan yang unik dan terasa aneh jika dipikirkan sekarang, seperti larangan kentut saat sedang makan. Jika ada yang tidak sengaja kentut saat makan, maka saat itu juga ia harus berhenti dan pulang, karena dianggap tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan hari itu. Selain itu, saat matahari senja mulai berwarna kuning dan muncul "lawa kuning", anak-anak dilarang keras untuk turun ke tanah. Jika seorang anak tidak sengaja melihat lawa senja dan mengadukannya kepada ayahnya, maka sang ayah akan membatalkan rencana berladang karena hal itu dianggap pamali besar.

Masalah mimpi juga memegang peranan penting dalam menentukan apakah sebuah lahan layak digarap atau tidak. Setelah menandai tanah di pagi hari, jika seseorang bermimpi melihat sapi berkeliaran di malam harinya, maka tanah itu tidak boleh diambil. Mimpinya dipercaya akan membuat hasil pembakaran ladang menjadi tidak sempurna atau mentah, persis seperti kunyahan sapi. Jika bermimpi melihat sapi, mereka akan memindahkan lokasi ladang ke tempat lain karena takut akan kesialan yang akan menimpa hasil panen padi nantinya.

Cara kami menguji kesuburan tanah pun dilakukan dengan cara yang sangat tradisional menggunakan parang, kunyit, dan serai. Parang akan ditusukkan ke tanah sambil merapal jampi-jampi; jika tanah lengket pada bilah parang saat dicabut, berarti tanah itu bagus dan membawa keberuntungan. Namun jika parang keluar dalam keadaan licin tanpa tanah, maka lahan itu dianggap tidak bagus dan kami akan pindah mencari tempat lain. Kami juga menanam kunyit dan serai sebagai tanda, lalu melihatnya selama tiga pagi berturut-turut untuk memastikan tidak ada gangguan serangga.

Dalam kehidupan sosial, kami juga sangat menjunjung tinggi tata krama "mencicipi" makanan agar tidak terkena kempunan atau "punan". Jika melihat orang makan atau ditawari makanan, minimal kita harus mencicipinya sedikit agar terhindar dari musibah seperti luka, memar, atau demam. Bahkan saat mengantar pengantin laki-laki (nyurung), kami harus segera meminum kopi atau mencicipi nasi yang disuguhkan meskipun sedang ingin mandi. Jika melanggar, daerah tersebut dianggap angker dan penyakit bisa dengan mudah menyakiti kita karena tidak menghargai adat setempat.

Keteguhan pada adat juga terlihat dalam hal-hal kecil seperti cara mempertajam pisau atau memotong dahan kayu. Kami dilarang mempertajam pisau dengan arah yang menghadap ke diri sendiri karena dianggap sebagai cara "mempertajam molat" yang pamali. Begitu juga saat membuang dahan kayu, tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena bisa menyebabkan kecelakaan atau luka pada diri sendiri. Saya sendiri pernah merasakan akibatnya ketika mengabaikan firasat atau menyembunyikan pertanda di jalan; saya mengalami luka di kepala saat menebang kayu hingga mandi darah.

Zaman sekarang, banyak dari pantangan ini sudah mulai ditinggalkan karena pengaruh agama yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Jika dulu kami sangat antusias melakukan gawai, memberi "umpan batu" di penuhek, atau memberi persembahan "tukau" setelah panen, kini hal-hal tersebut sudah jarang dilakukan. Dulu dalam satu minggu mungkin kami hanya bisa bekerja efektif selama dua hari karena banyaknya pamali, namun sekarang orang-orang "menghantam" dan "menyikat" pekerjaan tanpa terlalu memikirkan pantangan lama. Meskipun zaman sudah berubah, kenangan akan masa-masa penuh pamali itu tetap melekat kuat dalam ingatan kami sebagai orang tua.